Senin, 07 Juni 2010

NDOMA PANGERAN AFRIKA

Ndoma The Prince of Africa

"Ndoma" katanya mengulurkan tangan hitam.

Ndoma memang orang Negro jadi otomatis berkulit hitam. Dia berasal dari salah satu suku kecil wilayah dekat Burundi, Afrika. Tubuhnya besar, tinggi 182 cm. Menurutku dia orang hitam tertampan yang pernah aku jumpai. Di Kos kebetulan hanya aku yang bisa bahasa inggris. Jadilah aku penerjemah 
sekaligus guru bahasa Indonesia baginya. Kebetulan kami juga cocok.  Aku suka ditraktir makan sambil memperkenalkan kota kepadanya.

Baru minggu kedua aku masuk ke kamar Ndoma. Aku kaget waktu melihat sebuah foto vulgar berbingkai di kamarnya. Ternyata itu foto ayah dan kedua istri muda. Ayahnya mungkin baru berumur 40an. Dia dalam pose tiduran menyamping dengan kepala disenderkan pada lengan kanan. Telanjang bulat. Kontol tegang mengacung ke arah wajah lebih dari 20 cm.

Saat itu kami membahas tentang foto itu. Menurut Ndoma, kontol adalah lambang kejantanan, keberanian, kesehatan, kewibawaan dan kekuasaan. Lima hal itu harus dimiliki seorang kepala suku secara utuh. Ndoma sebagai calon pewaris tidak setuju dengan pandangan itu. Dia sangat mencintai keluarga dan suku namun dia menentang ideologi itu.

"Itulah mengapa saya lari dari rumah," ujarnya seraya mata berkaca-kaca.

"Saya ingin buktikan kalau untuk jantan, berani, sehat, wibawa dan berkuasa, tidak diperoleh dengan cara memamerkan kontol. Saya menganggap itu rendah di mata bangsa-bangsa lain. Saya tak ingin suku saya direndahkan karena pandangan ini. Sampai di sinilah pencarian saya,"  katanya menunjuk ke tanah yang artinya Indonesia. Air matanya menetes.

Ndoma memilih sepakbola sebagai media perjuangan. Seorang pemain berbakat yang memiliki postur yang tepat. Namun dia masih menganut satu warisan dari leluhur yaitu hidup tanpa celana dalam. Bahkan dibalik celana sepakbolanya. Dia pernah tertangkap kamera karena kontol Ndoma mengintip sewaktu menendang bola. Salah satu foto, kata orang-orang, terpampang di fotografer.net. Ya itu fotonya waktu latihan sepak bola sebagai pekerjaan profesional.

Aku semakin dekat. Aku merasa dia teman yang tak pernah hitungan. Dia orang yang baik dan terlalu jahat kalau kita memanfaatkannya. Meskipun aku sendiri tidak suka dengan sepakbola. Jadi aku sendiri tidak terlalu ikut campur dengan urusan pekerjaan. Kami bertemu pada malam waktu Ndoma dan aku tidak ada kegiatan luar. Semakin lama kegiatan Ndoma makin banyak. Dia juga sudah punya banyak teman jadi aku tidak terlalu sering bersama.

"Ndoma?" kuketuk pintu kamarnya sekitar jam 9 di suatu malam minggu.

Tak terdengar jawabanya. Kamar sudah gelap tapi dari dalam kamar televisi masih menyala. Mungkin dia baru akan tidur atau sedang tiduran.

"Ndoma?" tak ada jawaban lagi.

Kuberanikan diri untuk masuk. Ternyata pintunya tak terkunci. Kujulurkan kepalaku, Ndoma tertidur dengan hanya mengenakan celana pendek yang longgar. Kakinya menekuk menghadap ke televisi. Tubuhnya tegap dan bagus. Perutnya sixpack sempurna meskipun sedang tidur.

Semula aku akan menarik kepala lagi namun cahaya terang televisi memantulkan benda hitam dekat paha. Itu semacam bahan dari gelas dan selang dan pompa karet. Aku ingat itu seperti pompa karet untuk memeriksa tekanan darah. Akhirnya aku masuk karena penasaran.

Ndoma tertidur, Dadanya yang bidang dan tebal turun naik teratur. Ah benar-benar hitam manusia ini. Setelah cukup aman mengetahui dia tidur aku kembali mengamati benda yang membuatku penasaran tadi. Ah, ini kan... aku pernah melihat benda semacam ini di sebuah gambar. Ahh aku ingat ini kan benda yang diiklankan itu. Alat pembesar penis. Ndoma menggunakannya?

Langsung saja aku memandang ke sana. Di antara selakangan. Celana pendek parasit pendek dan longgar Dekat lubang paha langsung nampak batang hitam. Kontolnya tertidur lemas tapi panjangnya (aku yakin) 20 cm lebih dan juga besar. Ini lebih besar dan panjang dari punyaku bahkan sewaktu aku tegang. Gila, ini kontol terbesar, bahkan sewaktu kontol itu sedang tidak ereksi.

Kutengok wajah Ndoma. Ah, masih tampan juga meskipun sedang tidur. Jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Darahku langsung naik. Bahkan kontolku pun tak mau kalah langsung sesak di celanaku. Setelah kuluruskan, keinginanku untuk menyentuh kontol Ndoma langsung tak tertahankan.

Tangaku menjulur pelan ke sana. Halus lembut tapi lemas. Aku takut sekali Ndoma bangun. Tapi satu pihak keinginanku lebih dari sekedar menyentuh juga naik. Kugenggam kontolnya jatuh lemas di tangan kananku. Terasa penuh di tanganku. Aku tak puas dan mencoba meremas. Perlahan kuurut kontol itu dari pangkal ke ujung.

Kupandang wajah Ndoma lagi. Matanya kini sudah terbuka. Aku kaget bukan main. Kulepas.

"So.. sorry. Aku ... aku cuma...." kataku tergeragap antara malu dan merasa bersalah.

Aku tak bisa menebak ekspresinya saat itu. Ndoma terduduk. Kulirik ke bagian selakangan dengan cepat. Ndoma sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kontolnya yang kurasa kini bertambah besar dan mengeras. Tiba-tiba tangannya sudah di kedua lenganku.

"Kamu boleh menikmati kalau mau..."

Haa.. sungguh tak menyangka. Kupandang dia. Kepalanya menggangguk pelan dan mantap. Kontolnya bergerak berkedut-kedut mengundang. Aku pun tak menyiakannya. Segera kuambil. Kontol hitam itu tidak banyak bertambah panjang tapi bertambah besar hampir setengahnya. Sekarang sudah terasa keras. Inilah kontol hitam pertama yang kupegang.

"Suck itt..." kata Ndoma berbisik sangat dekat telingaku.

Hidungnya bahkan terasa menempel dan bibirnya menggerayangi leherku. Ahhhh.....

Kontolnya kuciumi. Harum. Aku percaya Ndoma selalu menjaga kebersihannya. Baru kali ini aku yakin kalau gambar-gambar orang berkulit hitam dengan kontol besar di internet itu benar. Selama ini aku anggap mereka hanya mengada-ada dengan gambar freak. Kukocok kontol itu pada ujungnya.

"Hhhh ohhh...." kulihat Ndoma sangat menikmati.

Tangan Ndoma yang terasa dingin menerobos celanaku. Kontolku yang sudah ngaceng dan basah digenggam erat. Agak sakit. Aku berlutut. Ndoma memelorotkan celanaku.

"Sudah lama aku ingin melihat kontolmu. Aku penasaran sekali dengan kontol Asia," ujar Ndoma


"Kamu boleh menikmati kalau mau..." bisikku membalas tepat di telinganya.


Ndoma tersenyum lebar memamerkan deretan gigi putihnya.

Kontolku terasa kecil dibanding milik Ndoma. Hilang dalam genggaman. Padahal saat itu sedang dalam keadaan maksimal. Ya maksimal kerasnya, maksimal panjangnya, dan maksimal besarnya.

"Aku suka kontolmu" kata Ndoma dan lansung mulutnya menuju ke kontolku

"Oooaahhhh...." kontolku dihisap kuat.

Gila! Si pemilik kontol besar super panjang ini. Ccup.. slop.. slop... ludahnya berkecipakan melumat kontolku. Aku hanya mampu mencari-cari pegangan. Aku menggelepar seperti ikan di darat.

"Ahhhh.. yesss ahhhh.." jeritku.

Tiap hisapan Ndoma membawaku ke awang angan tak bertepi.

"Ndoma... ahhh aku hampir ahhhh...." ujarku memperingatkan.

Ya, selain dari tadi sudah ngaceng, aku juga tak bisa bertahan lama. Nafsuku membludak sejak tadi. Orgasmeku sudah sangat dekat.

"Haaaahhh ahhh...." lepas sudah tulang-tulangku dari tubuhku.

Lega sekali. Semua semburan maniku dihisap habis. Bahkan gelinya dijilati tak hilang seumur. Ya, kepala kontolku dibersihkan dengan lidahnya yang merah tanpa jijik. Bukannya aku menikmati kontol Ndoma malahan kontolku yang dinikmati.

"Thanks bud.." kataku sambil mencium pipinya. Masih menguar bau maniku dari mulutnya.

Tanpa mengenakan celana kurebahkan tubuhku di samping Ndoma. Kupeluk dia seperti guling. Kami merasa sangat dekaaat sekali waktu itu. Wajahnya menengokku sangat dekat dan dia tersenyum.

"Thanks ya.." katanya.

"Untuk apa?" bisikku.

"Karena kamu jadi teman paling dekat dihatiku,"

Kueratkan pelukanku. Ingin kunyatakan bahwa aku juga demikian.

SELESAI.


Tuk sobatku Ndoma yang kini entah dimana....!

Ke halaman utama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar